Minggu, 10 Juli 2011

Kenali Gejala Kanker Prostat Sejak Dini

Kenali Gejala Kanker Prostat Sejak Dini

Yulvianus Harjono | Pepih Nugraha | Minggu, 10 Juli 2011 | 14:47 WIB

Shutterstock
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kanker prostat saat ini menjadi salah satu penyakit dengan tingkat keganasan yang tinggi. Kanker prostat menjadi penyebab utama kematian akibat kanker bagi pria di atas usia 74 tahun. Untuk itu, perlu dikenali dan diantisipasi penyakit ini sejak dini.

Menurut Ketua Perhimpunan Urolog-Onkolog Indonesia (ISUO) Prof. dr. Rainy Umbas, Sp.U, mengenali penyakit gangguan prostat sejak dini dapat memperbesar peluang menyembuhkan penyakit yang mematikan, khususnya bagi orang lanjut usia ini. Yang ia sesalkan, masih ditemui adanya pasien yang terlambat melakukan pengobatan kanker prostat, sehingga sulit disembuhkan.

Di Indonesia, jika sejak stadium awal sudah ditangani, angka harapan hidup bisa mencapai 70 persen. Sementara, di Barat, lebih baik yaitu 90 persen. Kalau sudah capai stadium lanjutan , pada banyak kasus, angka harapan hidupnya hanya 50 persen. Dalam 5 tahun, pasien akan meninggal, ujarnya dalam Media Edukasi bertajuk Kenali dan Waspadai Kanker Prostat yang diadakan Sanofi Group dan ISUO, Sabtu kemarin.

Adapun gejala penyakit gangguan dan kanker prostat antara lain penderita sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil, dalam sehari bisa buang air kecil hingga 8 kali dan pancaran air seni lemah atau tak tuntas. Gejala lanjutannya, muncul darah pada air seni atau sperma, disfungsi ereksi, dan keluhan sakit di tulang belakang.

Penanganan penyakit kanker prostat, menurut dr. Aru Wisaksono, SpPD, onkolog dari Universitas Indonesia, dewasa ini menggunakan pendekatan multidisipliner atau komprehensif. Untuk itu, penanganan kanker prostat kini juga melibatkan ilmu onkologi. "Berbeda dengan dahulu, saat ini sudah ada obat-obatannya, misal kemoterapi. Tetapi, sangat penting untuk melakuka deteksi dini," ujarnya.

Pengobatan kemoterapi terutama dilakukan terhadap para penderita kanker prostat yang mengalami stadium lanjut, yaitu menyebar hingga ke jaringan syaraf tulang belakang. Dalam kondisi ini, penderita biasanya mengalami nyeri luar biasa pada bagian tulang belakang dan pinggul. Pengobatan kemoterapi berfungsi untuk mengurangi nyeri, sehingga setidaknya meningkatkan kualitas hidup penderitanya.

Jumat, 08 Juli 2011

Obat Diabetes dari Labu Parang Temuan Mahasiswa UGM

Jumat, 08/07/2011 16:09 WIB

Obat Diabetes dari Labu Parang Temuan Mahasiswa UGM

Bagus Kurniawan - detikHealth


img
foto: Thinkstock
Yogyakarta, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Rijki, berhasil menemukan kandungan labu parang yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Penemuannya itu membuat Rijki memperoleh penghargaan Alltech Young Scientist Award.

Labu parang mengandung senyawa saponin dan flavanoid, yang keduanya berkhasiat menurunkan kadar glukosa darah dan memperbaiki sel beta pancreas untuk menghasilkan insulin kembali.

"Bahan-bahan ini terkandung dalam labu parang," uangkap Rijki kepada wartawan seusai acara penyerahan penghargaan di FKH UGM di Yogyakarta, Jumat (8/7/2011).

Berdasarkan hasil penelitiannya ungkap Rijki, kandungan saponin secara signifikan mampu menurunkan glukosa darah. Meski percobaan ini baru dilakukan pada tikus, namun dia melihat hasil yang cukup menggembirakan. "Hasil pengukurannya, semakin tinggi dosis saponin maka akan secara signifikan menurunkan kadar glukosa," katanya.

Dia mengatakan untuk mengobati penyakit diabetes pada manusia, diperlukan 400-800 gram labu parang yang telah diekstraksi untuk dikonsumsi tiap hari. Namun bila itu terlalu repot, dia menyarankan labu parang bisa dikonsumsi secara langsung dengan cara haluskan dengan diblender. "Saponin larut dalam air, jika dimasak, kadar saponin akan berkurang," katanya.

Menurut dia, ide awal menggunakan labu parang ini muncul saat dirinya pulang ke rumahnya di Desa Caringin, Sukabumi, Jawa Barat. Dia melihat banyak petani yang budidaya labu parang.

Saat itu, Rijki mencoba menggali informasi tentang khasiat labu ini melalui internet. Setelah itu, dia mencoba melakukan penelitian lebih lanjut dengan menguji di laboratorium. Dia menggunakan tikus sebagai sebagai kelinci percobaan.

"Hasil penelitian awal ini memang signifikan. Hanya saja di desa saya, sudah tidak banyak petani yang menanam labu parang lagi. Semoga dengan temuan ini produksi labu parang semakin bertambah," katanya.

Karena prestasinya itu, Rijki memperoleh medali dan piagam dari PT. Alltech Biotechnology Indonesia, yang diserahkan langsung oleh diserahkan langsung General Manager Drh, Isra Noor. Turut hadir dalam acara penyerahan penghargaan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama dan Alumni FKH UGM drh. Setyo Budhi, MP.

GM PT Alltech Biotechnology Indonesia, Isra Noor, mengatakan Rijki merupakan satu-satunya mahasiswa dari jurusan Kedokteran Hewan yang berhasil meraih penghargaan ini. "Tahun ini banyak dari jurusan peternakan dan mahasiswa pascasarjana," katanya.

Kamis, 07 Juli 2011

Pengobatan Eksim dengan Larutan Pemutih Cucian

Pengobatan Eksim dengan Larutan Pemutih Cucian

Ditulis oleh Erabaru Sabtu, 22 Agustus 2009

Pengobatan penyakit eksim dengan larutan pemutih pakaian

Pengobatan penyakit eksim dengan larutan pemutih pakaian

Meskipun metode perawatan ini terdengar aneh, namun para peneliti menemukan bahwa zat anti bakteri yang terdapat dalam pemutih cucian dapat meredakan rasa gatal, kudis kulit yang disebabkan penyakit eksim.

Hal ini mengemuka setelah pengobatan antibiotik secara rutin malah meningkatkan resistensi bakteri, sesuatu yang dihindari oleh para dokter, terutama bagi pasien kanak-kanak.

Suatu penelititan dalam journal ilmiah Pediatric terbitan 27 April 2009 mempublikasikan riset yang dilaksanakan di AS mengungkapkan temuan yang cukup mencengangkan sekaligus menggembirakan bahwa larutan pemutih cucian ternyata dapat dipergunakan sebagai larutan pengobatan bagi penyakit eksim akut yang biasa menyerang kanak-kanak. Penyakit eksim parah yang akut yang biasa menyerang kanak-kanak diseluruh dunia (atopic dermatitis) yang biasa menimbulkan infeksi disebabkan bakteri staphylococcus.

Riset dilaksanakan oleh professor ahli pediatrics, Amy S. Paller, M.D., dari the Feinberg School, Universitas Northwestern, AS menunjukkan bahwa pengobatan berkala dengan memberikan mandi berendam dalam cairan ternyata berdampak positif untuk mengurangi gejala eksim ekstrim akut yang di AS diperkirakan menyerang sampai 17% kanak-kanak usia sekolah.

Serangan penyakit eksim akut pada kalangan kanak-kanak di AS diketahui telah menimbulkan perhatian di khalayak luas karena menimbulkan gatal-gatal hebat yang kemudian sering mengganggu waktu tidur, terjadinya sakit berulang yang seolah tak kunjung sembuh total, hingga dampak mengganggu konsentrasi belajar kanak-kanak pada waktu bersekolah. Peneliti berpendapat bahwa serangan penyakit eksim akut pada kanak-kanak di AS tercetus selain faktor alergi adalah akibat polusi dan toksin yang terpapar pada kehidupan modern sehari-hari.

Dalam riset ini Peneliti Paller, dkk. melaksanakan metode pengobatan atas 31 pasien kanak-kanak (usia 6 bulan hingga 17 tahun) penderita eksim dengan pemberian obat minum antibiotik untuk selama 14 hari. Separuh dari pasien kemudian mesti melakukan mandi berendam dalam bathtub yang airnya diberi larutan pemutih dengan takaran setengah tutup botol per satu isian bathtub (40 galon). Mereka harus merendamkan seluruh bagian tubuh mereka kecuali kepala dan leher. Karena cairan pemutihnya sangat sedikit dibandingkan air di bathtub, hampir tak tercium bau apapun. Mereka berdiam selama 10 menit setiap sesi berendam, dua atau tiga kali sehari dalam masa penelitian tiga bulan. Separuh pasien lain yang diteliti tidak diberi perlakuan perendaman dengan larutan pemutih.

Pertanda positif nyata yang diperoleh langsung dari hasil eksperimen berendam di larutan pemutih diantaranya menghilangnya gatal-gatal dan infeksi pada daerah kulit tubuh yang kerap diserang penyakit selain mampu mencegah terjadinya cetusan perulangan serangan penyakit pada daerah yang pernah terserang infeksi penyakit eksim ekstrim ini. Anak yang dirawat dengan cara berendam dengan larutan pemutih menunjukkan perbaikan 5 x daripada yang tidak. Paller berkata, "Kami telah lama berusaha mencari cara menaklukkan infeksi eksim bakteri staphylococcus pada pasien. Ternyata hanya dengan pemutih rumah tangga yang sederhana, yang kami teliti dapat menurunkan jumlah bakteri staphylococcus pada kulit, benar-benar membantu penderita penyakit ini."

Seluruh peneliti dengan gembira berkesimpulan bahwa larutan pemutih memiliki daya anti bakteri yang berkemampuan membasmi beragam bakteri yang menyerang kulit penderita eksim. Merekapun berkeyakinan bahwa pengobatan dengan metode ini dapat pula diterapkan kepada para penderita ekstrim kalangan usia dewasa, dan tetap memenuhi manfaat keunggulan membasmi bakteri tanpa dengan dampak menimbulkan resistensi kekebalan bakteri seperti pengobatan antibiotika selain harga proses pengobatan yang amat murah untuk mengalahkan penyakit eksim akut.

Dan sebagai langkah memasyarakatkan penelitian ini maka institusi the Feinberg School, Universitas Northwetern secara khusus telah meluncurkan situs: www.eczemacarecenter.com

Rabu, 06 Juli 2011

Teh Hijau Penghancur Lemak Alami

Teh Hijau Penghancur Lemak Alami

Senin, 9 Juni 2008 | 15:27 WIB


Teh hijau mengandung bahan aktif epigallocathechin gallate yang multi fungsi.

"Minum air jeruk saja biar lemaknya hancur," mungkin Anda sering mendengar saran tersebut untuk mengurangi rasa berdosa setelah menyantap makanan enak, tapi penuh lemak. Padahal, penghancur lemak alami yang paling baik adalah teh hijau.

Menurut dr. Phaidon Toruan, dalam bukunya Fat-Loss Not Weight-Loss, ada dua keuntungan mengonsumsi teh hijau, yakni sebagai fat burner yang optimal dan kaya akan antioksidan.

Teh hijau akan membantu meningkatkan pembakaran lemak, dalam arti membantu meningkatkan metabolisme trigliserida (misalnya lemak yang tebal di bawah kulit) untuk diubah menjadi asam lemak. "Tapi ingat, lemak di bawah kulit hanya bisa dibakar bila bentuknya sudah diubah menjadi asam lemak. Proses pembakarannya adalah dengan olahraga," kata Phaidon.

Agar fungsi teh hijau sebagai fat burner lebih optimal, Phaidon menyarankan agar teh hijau diminum sebelum latihan. Kapasitas antioksidan teh hijau sangatlah kuat sehingga bisa memberi efek proteksi terhadap dinding sel otot. Selain itu, lanjut Phaidon, jika diminum sebelum menyantap makanan, teh hijau akan membantu menahan asupan lemak.

Bagi Anda yang ingin praktis kini telah banyak tersedia ekstrak teh hijau yang sudah diolah secara modern dalam bentuk kapsul sehingga bisa dibawa ke mana pun dan mempermudah Anda mempersiapkan diri bila ingin berolahraga dan menggunakan ekstrak teh hijau.

Teh Hijau Bikin Antibiotik Makin Ampuh

Teh Hijau Bikin Antibiotik Makin Ampuh

Jumat, 11 Juli 2008 | 14:37 WIB


Tiga cangkir teh hijau sehari dapat menyumbang cukup antioksidan bagi tubuh Anda, sehingga mampu melawan penuaan dini serta peradangan. Risiko kanker kulit juga akan jauh berkurang.
TERKAIT:

Ribuan penelitian telah mengungkapkan, teh hijau adalah minuman alami menyehatkan dan kaya akan kandungan antioksidan. Faedahnya pun begitu beragam, mulai dari memelihara kesehatan jantung hingga menekan risiko kanker.

Berdasarkan temuan para ahli di Mesir, teh hijau ternyata juga memiliki pengaruh positif bagi antibiotik. Para peneliti dari Universitas Alexandria menyimpulkan, teh hijau mampu meningkatkan keampuhan antibiotik dalam membunuh bakteri resisten hingga 3 kali lipat, bahkan kuman super sekalipun.

Teh hijau adalah salah satu jenis minuman favorit bagi warga Mesir. Bahkan tak tanggung-tanggung, mereka kerap meminumnya bersama obat-obatan seperti antibiotik. Peneliti tertarik melihat apakah teh hijau dapat menurunkan, meningkatkan, atau sama sekali tak memengaruhi kinerja antibiotik.

Hasilnya mengejutkan, menurut studi yang hasilnya dipresentasikan pada pertemuan Society for General Microbiology di Edinburgh, Skotlandia, akhir Maret 2008, teh hijau mampu meningkatkan kemampuan antibiotik melawan bakteri resisten, bahkan kuman super sekalipun.

"Kami menguji kombinasi teh hijau dengan antibiotik melawan 28 penyakit yang disebabkan dua kelas mikroorganise," kata Dr Mervat Kaseem dari Fakultas Farmasi Universitas Alexandria yang memimpin studi itu.

Ia menjelaskan, "Pada setiap kasus tertentu, teh hijau terbukti meningkatkan aktivitas antibiotik membunuh bakteri. Misalnya, efek kloramfenikol membunuh bakteri 99,99 persen lebih baik dari saat meminum teh hijau dibandingkan tanpa menggunakannnya."

Kaseem dan timnya juga menemukan teh hijau mampu membuat 20 persen bakteri resisten menjadi rentan dengan antibiotik sefalosporin, sejenis antibiotik penting untuk mengatasi strain bakteri yang telah berubah menjadi resisten atau kebal.

Peneliti menambahkan, hampir pada setiap kasus dan semua tipe antibiotik yang mereka uji, pemberian antibiotik bersama teh hijau meningkatkan kerja antibiotik tersebut, serta mengurangi resitensi obat pada bakteri. Dan untuk kasus tertentu, green tea dengan konsentrasi rendah sekalipun tetap efektif.

"Hasil studi kami menunjukkan bahwa kita harus mempertimbangkannya lebih serius bahan-bahan alami yang dikonsumsi setiap hari," ujar Kaseem.

"Di masa mendatang kami akan mencari dan meneliti bahan alami lain seperti majoram dan thyme. Ini diperlukan untuk menguji apakah mereka juga mempunyai zat aktif yang membantu memerangi bakteri resisten terhadap obat," katanya.

Menyeruput Teh, Larutkan Kolesterol dalam Tubuh

Rabu, 15 Oktober 2008 | 11:56 WIB

SAAT menjamu tamu, sering kali kita mendengar tuan rumah mengeluarkan kata "Maaf, ya, adanya cuma teh." Perkataannya akan beda, bila tuan rumah menyajikan minuman bersoda atau istilah kerennya soft drink, "Silahkan diminum, jangan malu-malu, lo."

Itulah sekelumit, gambaran orang Indonesia saat menjamu tamunya dengan secangkir teh hangat. Kedengarannya seperti malu menyuguhi tamunya dengan teh. Padahal teh yang dihasilkan Indonesia sangat berkualitas dan telah di ekspor ke manca negara.

Ini jelas berbeda dengan masyarakat Jepang, China, dan Inggris yang menjadikan teh sebagai salah satu kebanggaan. Sampai-sampai mereka punya jam khusus untuk sekadar minum teh bersama keluarga atau rekan-rekannya.

Baru beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Indonesia mulai menyadari keistimewaan dan pentingnya mengkonsumsi teh. Makanya, beragam jenis teh terus bermunculan dan menawarkan khasiatnya masing-masing. Dua jenis teh yang sedang hangat dibicarakan adalah teh bakar dan hibiscus, yang katanya berkhasiat menutunkan kolesterol.

Kata Indrayani Saridewi, salah satu penjual teh bakar asal Surabaya, teh bakar berasal dari daun teh pilihan dengar bibit khusus dan bermanfaat bagi kesehatan. "Salah satunya berfungsi menurunkan kolesterol dan berat badan bagi orang yang tak punya waktu untuk berolahraga," ajar Dewi, panggilan gaulnya.

Menurut pengakuan Dewi, karena khasiatnya yang istimewa, teh tersebut harus dia.datangkan dari luar negeri. Awalnya, dia mengimpor dari Malaysia. Tapi setelah mengetahui asalnya, dia memesan langsung dari Inggris. Dewi mengimpor teh bakar itu secara curah, lalu mengemasnya dalam bentuk teh celup.

Sesuai namanya, teh bakar adalah teh yang dibakar. Akibat pembakaran, daun tehnya jadi hitam. Namun, tidak berarti tehnya menjadi berwarna hitam juga, lo. Waktu teh bakar diseduh, warnanya berubah menjadi warna oranye dan rasanya seperti teh tawar. "Dengan minum teh bakar, racun-racun akan dikeluarkan dari dalam tubuh," ujar Dewi. "Untuk mendapatkan hasil maksimal, biasanya teh diminum dua hingga tiga kali dalam sehari sekitar 10 menit hingga 20 menit usai makan."

Bagi yang ingin menurunkan berat badan, teh harus diminum sepuluh menit sebelum makan dan diimbangi dengan olahraga jalan kaki 10 menit hingga 15 menit setiap harinya. "Teh bakar tak boleh dicampur dengan gula serta tak memiliki efek samping," ajar Dewi berpromosi. Bagi penderita kolesterol, khasiat teh ini baru akan terasa minimal setelah tiga bulan mengonsumsi.

Pemasaran baru via telpon
Khasiat teh bakar tak hanya menurunkan kolesterol. Ada banyak khasiat lainnya seperti mencegah proses penuaan dini, memperbaiki proses pencernaan makanan dalam lambung, mencegah pengeroposan tulang dan menurunkan risiko penyakit jantung. Bahkan teh ini juga bisa mengurangi lemak sehingga membantu menurunkan berat badan.

Karena khasiatnya yang banyak, harganya pun lumayan mahal. Harga teh bakar satu kotak berisi 60 kantung celup Rp 135.000. Harga ini sudah termasuk ongkos pengiriman barang. Maklum, pemasarannya baru lewat telepon. Tahun depan, teh ini rencananya baru dipasarkan secara online.

Jika sulit mendapatkan teh bakar, alternatif lain, kita bisa mengkonsumsi teh hibiscus alias rosella merah. Teh ini memiliki khasiat tak jauh berbeda dari teh bakar.

Menurut Andreas Kurniawan, penjual teh hibiscus dari indonesiaherbal.com, teh ini asalnya merupakan teh impor dari Sudan, Mesir. Teh ini bermanfaat mengeluarkan racun dari tubuh, menurunkan kolesterol, anti-hipertensi, hingga memperbaild gangguan pencemaan.

Perkembangan pasar teh hibiscus ini lebih pesat dari teh bakar. Bahkan, teh ini sudah banyak dikembangkan petani lokal. Perbedaannya hanya pada warnanya. "Kalau teh impor berwarna ungu, teh lokal warna merah," kata Andreas. (Tanggul Joko Pamungkas)

Teh Bukanlah Terapi Utama Jinakkan Kolesterol

Rabu, 15 Oktober 2008 | 12:11 WIB



SEMAKIN tinggi kandungan kolesterol yang ada di tubuh, semakin tinggi risiko seseorang terkena penyakit jantung. Tak heran, kolesterol sangat ditakuti banyak orang. Terutama bagi mereka yang memiliki kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) jauh lebih tinggi dari kandungan kolesterol baik atau high density lipoprotein (HDL).
Saptawati Bardosono, Dokter Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bilang, kadar kolesterol total darah yang aman, lebih kecil dari 200 mg/dL, kadar kolesterol LDL kurang dari 130 mg/dL, kadar kolesterol HDL lebih besar dari 40 mg/dL, dan kadar trigliserida darah kurang dari 150 mg/dL. Kalau sudah melebihi patokan ini, artinya kita sudah pada tahapan berbahaya dari ancaman penyakit jantung.
Nah, kalau sudah memasuki tahap berbahaya, orang baru mulai sibuk mencari jalan menurunkan kolesterolnya. Mulai dari rajin chek up ke dokter hingga menggunakan altematif pengobatan lainnya.
Salah satunya, rajin mengkonsumsi teh bakar dan teh rosella. Padahal, khasiat kedua jenis teh tersebut dalam menurunkan kolesterol behim teruji secara ilmiah oleh para ahli atau oleh para dokter.
"Teh itu hanya sebagai suportive theraphy, artinya hanya sebagai terapi pendukung untuk menurunkan kolesterol, bukan terapi utama," kata Dokter Gizi dari Klinik Hang Lekiu, Inayah Budiasti. Terapi utama adalah pola makan yang tepat dan tak mengandung kolesterol. Inayah melanjutkan, pada daun teh terdapat serat yang bisa menurunkan kadar kolesterol. Serat tersebut mengandung senyawa kirnia flavonoid, polifenol, dan katekin yang berperan sebagai antioksidan.
Namun, dalam proses pembuatan teh seringkali menghilangkan atau merusak zat-zat penting dalam teh. Kalau dalam proses pembakaran, serat yang ada pada daun teh tak rusak atau tak bersentuhan langsung dengan api, berarti antioksidannya masih utuh. Antioksidan inilah yang berfungsi mencegah penyumbatan pembuluh darah. "Tapi, proses pembakaran bisa juga menyebabkan pengurangan senyawa katekin," imbuh Dosen Gizi dari IPB Ali Khomsan.
Berbeda dengan proses pembakaran, dalam proses pembuatan teh hijau yang melalui proses fermentasi, maka kandungan katekinnya paling tinggi. Hal ini berlaku untuk semua jenis teh mulai dari teh bakar, teh hijau, dan juga teh rosella. Sepaham dengan Inayah, dokter keluarga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Muchtaruddin Mansyur menyatakan, untuk menurunkan kolesterol perlu menjaga pola makan dan olahraga yang cukup.
Jika kandungan kolesterol dalam tubuh sudah terlalu tinggi, perlu dibantu obat-obatan dan diikuti dengan pengaturan pola makan, olahraga teratur, berhenti merokok dan menyetop konsumsi alkohol. (Tunggul Joko Pamungkas)